Perkuat Penanganan Karhutla Jelang Puncak Kemarau

Jumat, 31 Juli 2026 | Berita Pimpinan

PROKOPIM KUBU RAYA — Wakil Bupati Kubu Raya Sukiryanto memprediksi potensi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kubu Raya masih besar hingga September 2026. Sukiryanto menyebut Kubu Raya bahkan menjadi perhatian nasional karena hampir 80 persen wilayahnya merupakan lahan gambut. Di beberapa titik, kedalaman gambut bahkan mencapai 6-8 meter.

“Ini bukan kita yang memilih. Tugas kita hanya berusaha. Tenaga ada, alat ada, tapi kalau air tidak ada ya sulit juga,” kata Wakil Bupati Sukiryanto dalam briefing rutin penanganan karhutla, Jumat (31/7/2026), di Ruang Pamong Praja I Kantor Bupati Kubu Raya.

Sukiryanto mengapresiasi para relawan yang aktif di lapangan. Ia mengungkapkan Kubu Raya saat ini berada di urutan ketiga daerah dengan titik api terbanyak di Kalimantan Barat setelah Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Namun, secara nasional Kubu Raya menjadi sorotan karena terdapat Bandara Internasional Supadio. Dalam briefing tersebut, Sukiryanto membeberkan sejumlah kekurangan yang harus segera dilengkapi. Di antaranya kebutuhan peralatan pemadam api dan tenaga survei yang jumlahnya masih kurang.

“Saya minta Kepala Pelaksana BPBD menambah tim survei minimal tiga orang. Kapolres juga bisa menugaskan personel. Pos survei sebaiknya di kantor bupati agar koordinasi antarinstansi lebih mudah,” katanya.

Untuk mengatasi keterbatasan air, ia mengusulkan pembuatan embung darurat dengan menggunakan terpal.

“Biayanya sekitar Rp3,6 juta per titik. Kalau kita buat sepuluh titik, ini paling murah dan cepat. Air akan mengalir dan mengisi sendiri. Asal penyimpanannya bagus bisa dipakai sampai tahun depan,” jelasnya.

Sukiryanto menutup arahan dengan mengajak jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk terus aktif.

“Intinya kita harus semangat. Terus berkomunikasi terkait pemantauan dan penanganan karhutla supaya hasilnya maksimal,” pungkasnya.

Sementara itu, Kapolres Kubu Raya Rensa Sastika Aktadivia Robinson menginstruksikan jajarannya memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla.

“Silakan berkoordinasi dengan stakeholder instansi-instansi terkait untuk memulai tindakan pencegahan, koordinasi, dan kolaborasi dalam rangka penanganan titik-titik api dan pemadaman karhutla,” kata Kapolres.

Kapolres juga menyatakan akan menindak tegas jika ditemukan indikasi pembakaran secara sengaja.

“Lakukan penyelidikan. Cari tahu siapa pemilik lahannya, siapa yang melakukan pembakaran, dan apa motifnya. Apakah untuk pembukaan lahan perkebunan, pertanian, dan sebagainya,” ujarnya.

Ia mengingatkan meski ada peraturan daerah yang mengatur batas pembukaan lahan, masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara dibakar.

“Yang diharapkan pimpinan adalah masyarakat jangan dipersulit untuk membersihkan lahan, tapi jangan juga melakukan pembakaran,” katanya.

Kapolres menyebut saat musim kemarau debit air terbatas sehingga pemadaman kerap terkendala. Ia juga menyoroti dampak asap yang bisa mengganggu aktivitas di bandara dan transportasi umum.

“Kami dari Polres juga akan memberikan pemahaman kepada masyarakat. Saya sudah instruksikan Sat Binmas melalui Kasat Binmas untuk melakukan sosialisasi dengan melibatkan tokoh masyarakat. Imbau masyarakat agar tidak meninggalkan api setelah membakar, karena bisa merembet dan membesar,” jelasnya. (sym)