Perpustakaan Bukan Sekadar Tempat Buku, Ini Pesan Bunda Literasi Kubu Raya

Rabu, 10 Juni 2026 | Kubu Raya

Kubu Raya – Bunda Literasi Kubu Raya, Atzebiyatulensi Sujiwo, menegaskan bahwa perpustakaan saat ini harus mampu bertransformasi menjadi pusat pembelajaran, pemberdayaan, dan pengembangan masyarakat yang inklusif.

Hal itu disampaikannya saat membuka kegiatan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial di Aula Balai Diklat Keuangan Pontianak, Sungai Raya, Rabu, 10 Juni 2026.

Atzebi mengatakan, perpustakaan tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi telah berkembang menjadi pusat informasi, ruang kolaborasi, serta sarana belajar sepanjang hayat yang dapat diakses seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang usia, latar belakang, maupun kondisi sosial ekonomi.

Menurutnya, melalui program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, perpustakaan didorong untuk semakin dekat dengan masyarakat dan mampu menjawab berbagai kebutuhan warga melalui layanan yang bermanfaat dan berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas hidup.

“Perpustakaan harus hadir sebagai tempat yang memberdayakan, mengembangkan keterampilan, meningkatkan pengetahuan, serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

Sebagai Bunda Literasi Kubu Raya, Atzebiyatulensi meyakini bahwa budaya literasi merupakan fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang unggul. Literasi, kata dia, tidak hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, berinovasi, serta mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendukung gerakan literasi. Menurutnya, peran keluarga, sekolah, dan perpustakaan sangat penting dalam membangun budaya membaca dan belajar di tengah masyarakat.

“Orang tua dapat menumbuhkan kebiasaan membaca di rumah, sekolah memperkuat budaya belajar, dan perpustakaan menjadi ruang yang nyaman, inklusif, serta ramah bagi seluruh masyarakat,” katanya.

Atzebi juga menyampaikan apresiasi kepada para pustakawan, pegiat literasi, relawan, dan seluruh pihak yang selama ini berkontribusi dalam mengembangkan layanan perpustakaan sehingga semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Ia berharap melalui kegiatan tersebut akan lahir berbagai inovasi dan program yang mampu meningkatkan minat baca, memperluas akses informasi, serta memperkuat pemberdayaan masyarakat berbasis perpustakaan.

“Perpustakaan harus menjadi pusat pengetahuan dan pemberdayaan yang mampu menciptakan masyarakat yang cerdas, kreatif, mandiri, dan sejahtera,” tuturnya.

Melalui kegiatan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya terus mendorong penguatan budaya literasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta mewujudkan masyarakat yang adaptif terhadap perkembangan informasi dan teknologi. (DiskominfoKKR/IKP)