Prediksi Kemarau Panjang, Pemerintah Siapkan Hujan Buatan dan Sekat Kanal
Jumat, 17 April 2026 | Berita Pimpinan
PROKOPIM KUBU RAYA — Pemerintah bergerak cepat merespons ancaman dampak kemarau panjang yang diprediksi mencapai puncak pada Juli hingga September 2026. Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengingatkan bahwa Kalimantan Barat akan menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan biasanya. Ia menyebut kondisi ini bukan sekadar siklus tahunan, tetapi berpotensi menjadi ancaman serius jika tidak diantisipasi sejak dini.
“Kita kedatangan tamu tahunan yaitu musim kemarau. Tahun ini agak lebih panjang, diperkirakan berakhir hingga September,” kata Menteri Hanif dalam kunjungan kerjanya di Desa Rasau Jaya Umum, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kamis (16/4/2026).
Karena itu, ia menyebut pentingnya data lapangan dari daerah untuk mendukung langkah strategis nasional, termasuk koordinasi dengan BMKG dan BNPB dalam upaya modifikasi cuaca.
“Data itu akan lari ke kami, kemudian kami sampaikan ke BMKG dan BNPB untuk membangun hujan buatan. Selama masih ada bibit awan, ini harus dimanfaatkan,” paparnya.
Menteri Hanif mengungkapkan prediksi curah hujan tahun ini disebut sebagai salah satu yang terendah dalam tiga dekade terakhir. Hal itu, kata dia, mengharuskan adanya upaya antisipasi sejak dini.
“Di puncak kemarau nanti sekitar Juli, kita akan menghadapi curah hujan terendah selama 30 tahun terakhir. Ini harus kita antisipasi dari sekarang,” ucapnya.
Salah satu upaya antisipasi adalah menjaga kelembaban gambut untuk memastikan ketersediaan air melalui berbagai intervensi teknis.
“Hanya dengan cara itu kita bisa mengisi air di gambut. Pakai teori apa pun enggak akan bisa kalau airnya tidak ada,” jelasnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pengawasan tinggi muka air tanah oleh tim di lapangan. Informasi tersebut krusial untuk menentukan langkah penanganan sebelum kondisi semakin kritis. Selain itu, Menteri Hanif juga menyoroti pentingnya pembangunan dan optimalisasi canal blocking atau sekat kanal sebagai upaya menahan air di kawasan gambut.
“Nanti akan dirumuskan canal blocking mana yang harus segera diaktifkan atau dibangun. Ini penting untuk menyimpan air selama masih ada hujan,” terangnya.
Lebih lanjut Menteri Hanif mendorong agar model pengelolaan gambut di Desa Rasau Jaya Umum dapat didokumentasikan dan direplikasi ke daerah lain yang rawan karhutla.
“Model di sini kalau bisa didesain dalam bentuk buku atau format tertentu, sehingga bisa kita replikasi ke wilayah lain,” harapnya. (jek)
 Berita Terbaru
-
MTQ XII Kubu Raya Masuki Hari Ketiga, 16 Peserta I...
Jumat, 17 April 2026 12:53 WIB -
Prediksi Kemarau Panjang, Pemerintah Siapkan Hujan...
Jumat, 17 April 2026 09:38 WIB -
Menteri LH Sambangi Kubu Raya, Cek Kesiapan Hadapi...
Jumat, 17 April 2026 08:22 WIB -
Menko Polkam Terima Keluhan Pengelola KDMP Jeruju ...
Jumat, 17 April 2026 08:16 WIB